Futur Sindrom

Suatu waktu ada seorang sahabat bertanya “Koq jarang kelihatan ke masjid sekarang ini..?”, GUBRAK…!!!, seketika pertanyaan itu membuat aku malu sekaligus sedih, betapa akhir-akhir ini aku telah lalai akan kewajiban yang satu ini, bermacam alasan aku coba untuk menjawab pertanyaan ini, namun tak satupun ada alasan yang membenarkan atas kelalaianku ini, ya… karena aku sedang tidak sakit sehingga tidak mampu berjalan ke masjid, juga tidak hilang akal ataupun gila, beigitu pula akupun masih dapat mendengar sudara adzan berkumandang di masjid, ataupun udzur lainnya yang bisa membenarkan aku untuk tidak shalat berjama’ah di masjid … Astagfirullah … ampuni aku ya Allah….

Juga di waktu yang lain, seorang sahabat yang lain bertanya, “Sibuk ya sekarang, jarang kelihatan ngaji….”, WADEJIGH….!!!, sekali lagi rasanya muka ini seperti ditonjok, alasan apa lagi yang harus aku sampaikan kepada diriku sendiri agar bisa membenarkan kelalaianku atas kewajiban menuntut Ilmu Syar’I, hanya karena aku mempunyai kegiatan baru yang menghabiskan waktu liburanku di hari Sabtu dan Minggu, hingga menyebabkan aku jarang hadir ke tempat ngaji…., Astagfirullah … maafkan aku ya Allah ….

Namun aku mencoba melihat sisi baiknya, Alhamdulillah ternyata masih banyak sahabat-sahabat yang peduli, yang dengan Ikhlas mengingatkanku atas kelalaianku, mereka telah benar-benar menerapkan Konsep Ukuwwah Islamiyah, yang tidak rela melihat saudara seimannya mengalami kemunduran, merasa sedih melihat saudaranya terkena “Futur Sindrom”, dengan sangat lembut dan mengharap ridho Allah mereka mau mengingatkan saudara seimannya…

Jauh dari Majelis Ilmu, jauh dari orang-orang alim, sering berada di lingkungan orang-orang yang gemar berbuat dosa, mungkin dapat menyebabkan menurunnya “ghiroh” kita terhadap “Din” ini, tapi kita tidak boleh menyalahkan orang lain ataupun menyalahkan lingkungan, barangkali kita yang terlampau sering berbuat maksiat kepada Allah SWT. sehingga menyebabkan keimanan kita terus menurun. Namun memilih teman juga penting, Rasulullah mengingatkan akan pentingnya memilih pertemanan, ibarat kita berteman dengan tukang minyak wangi, maka kita akan terbawa wanginya, begitu pula sebaliknya bila kita berteman dengan tukang pandai besi, barangkali kita akan terkena bau gosong dari asapnya atau lebih parah lagi baju kita bisa terbakar … (ma’af saya tidak bermaksud menjelekan tukang pandai besi, dan buat tukang parfum jangan ge-er dulu, ini hanya perumpamaan koq…..)
Aku jadi teringat pada suatu kesempatan chating, sempat aku ditanya oleh seorang sahabat, “Kalau orang baik selalu berteman dan berkumpul dengan orang baik, lalu bagaimana nasib orang yang tidak baik, siapa yang akan menasihati mereka, siapa yang akan mengingatkan mereka ?…”.

Sukron ya Akh, Antum telah mengingatkanku atas kelalaian ini, semoga Ramadhan kali ini yang tinggal 23 hari lagi dapat menjadi moment yang tepat untuk memperbaiki segala kekeliruan-kekeliruan kita…. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s