Not Bad

Salah satu kebiasaan buruku adalah “malas, jika harus berurusan dengan lembaga pemerintahan…”, belum apa-apa sudah “ill feel” duluan. Tapi aku ga boleh berburuk sangka dulu, harus kubuang jauh-jauh pikiran itu, demi anaku agar mendapatkan selembar Akta Kelahiran, aku sempatkan cuti hari itu untuk mengurusnya, ke pihak yang berwenang,selain itu juga sebelumnya aku telah dapat ancaman berupa selebaran dari kantor catatan sipil setempat yang isinya, “Bila lewat 1 Agustus 2009 suatu kelahiran belum dilaporkan maka dikenakan denda Rp.50.000,- dan bila lewat dari 1 Januari 2010, Akta Kelahiran harus dikeluarkan lewat putusan Pengadilan”, hmmm bisa dibayangkan repotnya…

Setelah memohon restu dari Pak RT dan Pak RW diberikannya aku selembar surat pengantar untuk menyertai berkas-berkas lainnya berupa fotocopy KTP Suami/Istri, KK dan Akta Nikah. Dengan mengucap Bismillah serta La haula wala kuwwata illabillah, pagi-pagi aku berangkat menuju Kantor Kelurahan, tepat jam 8.00, aku disambut petugas kelurahan dengan senyuman petugas kelurahan, mmhh, not bad … awal yang baik, pikirku. Tapi tak lama setelah itu, tiba-tiba seorang juru ketik di kelurahan nyeletuk (upss, what is the meaning of “nyeletuk”..he…he..), begini katanya : “Panglaris…panglaris….” (pelaris-pen), GLEK..!! ..tiba-tiba perasaanku ga enak. Setelah kira-kira 15 menit berkasku selesai dikerjakan, sambil menyerahkan berkasku seorang petugas kelurahan berkata, “Sepuluh ribu aja Pak…”, walaupun aku gak ngerti untuk apa uang itu, segera aku berikan uang sesuai dengan jumlah yang ia minta. Setahuku proses di kelurahan aturannya tidak perlu membayar alias gratis, tapi gak apa-apa itung-itung buat bayar ¼ kertas surat kenal lahir berwarna hijau dan selembar fotocopy surat pengajuan akta kelahiran. Semoga Allah mengampuni kami, sehingga tidak tergolong orang yang disuap maupun menyuap….

Selesai urusan di kantor kelurahan, aku segera cabut menuju ke kecamatan, karena kelahiran anaku ini sudah lewat dari 60 hari kerja maka aku diharuskan meminta tanda-tangan dari kecamatan. Seperti halnya di kelurahan, kali ini aku pun disapa oleh petugas kecamatan, “Mau ketemu siapa Pak” tanyanya, “engg…mau mengurus akta kelahiran Pak”, jawabku. “Oh, langsung aja kesitu Pak” jawabnya sambil menunjuk ke sebuah loket. Di loket tersebut cukup cepat prosesnya, hanya kira-kira 10 menit, berkasku sudah ada tanda-tangan Pak Camat-nya. Sambil menyerahkan berkasku, petugas kecamatan bilang “Biayanya sepuluh ribu Pak…”, lagi-lagi aku malas bertanya untuk apa uang tersebut karena selama aku berada di tempat tersebut aku mencoba melirik kekiri, kekanan, kedepan, dan kebelakang, bahkan keatas, dan kebawah (siapa tahu pengumumannya copot dan jatuh tepat dibawah tempat dudukku), namun gak kutemukan pengumuman mengenai besar restribusi untuk secoret tandan-tangan Pak Camat. Hhmmm, enak ya jadi orang penting, tanda-tangan aja berharga, padahal sih harga ballpoint-nya mungkin gak nyampe segitu…

Selesai dari kantor kecamatan, dengan status H2C (harap-harap cemas) aku langsung aku menuju kantor Catatan Sipil, bersyukur di kantor tersebut tidak terlalu banyak antrian, mungkin waktu itu masih pagi karena jam menunjukan pukul 9.30. Selesai didaftarkan kemudian aku dipersilahkan menuju loket pembayaran, Alhamdulillah biayanya hanya Rp.35.000,-, sesuai dengan yang tertera di pengumuman. Andai saja kelahiran anaku ini dilaporkan kurang dari 60 hari kerja, tentu tidak dikenakan biaya. Kini aku tinggal menunggu selama 3 minggu hingga akta kelahiran anaku keluar sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan pada tanda bukti pengambilan akta. Kali ini aku sedikit lega, biaya yang harus dikeluarkan sesuai dengan yang tertera di pengumuman, hanya saja ketika hendak meninggalkan kantor tersebut tiba-tiba tukang parkir berseragam yang sama dengan petugas kantor tersebut meminta uang parkir Rp.1.000,-. Ada-ada aja, mau nyaingin emol kali ya, kantor pemerintah pake uang parkir segala. Sebenarnya bukan besaran uang pungli-pungli itu yang jadi permasalahan, tetapi budaya meminta-minta itu yang jadi masalah.

Mungkin ini pengalaman yang biasa bagi kebanyakan orang, tapi ini pengalaman yang menarik buatku, aku melihat ada progress ke arah perbaikan pelayanan masyarakat di lembaga-lembaga pemerintahan yang aku kunjungi. Semoga cita-cita menuju Good Government bisa terwujud, sehingga penerapan e-Government bisa berjalan sesuai dengan yang diinginkan bila moral aparatnya sudah siap. Amin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s