Serupa Tapi Tak Sama

Ketika mendengar kata “teroris”, bayangan yang melekat pada kebanyakan orang saat ini, umumnya tertuju pada sosok yang berjenggot, bercelana cingkrang (diatas mata kaki), dan biasanya istrinya berpakaian serba hitam dan bercadar. Begitulah stereotype (pelabelan negatif) dan stigmatisasi (pemberian citra tertentu) terhadap sosok teroris ini, mulai merebak semenjak munculnya peristiwa peledakan maupun bom bunuh diri yang terjadi di negeri ini. Jika sebelumnya orang-orang yang berjenggot dan bercelana cingkrang cobaannya baru sebatas ejekan atau cemoohan dari lingkungan sekitarnya, seperti dengan sebutan kambing ataupun kebanjiran, padahal berjenggot dan bercelana dengan tidak melewati mata kaki (bagi laki-laki) itu adalah sunnah, barangsiapa yang mengejek sunnah Rasul, berarti dia telah menghina Rasulullah, ironis dan menyedihkan. Namun sekarang cobaannya lebih berat lagi, sampai dicurigai termasuk aliran Islam garis keras atau mungkin terlibat (yang media masa istilahkan) jaringan teroris. Na’udzubillah. Semoga Allah mengampuni mereka yang menghina sunnah Rasul-Nya karena ketidak tahuannya dan juga semoga Allah memberikan kekuatan kepada mereka yang telah berupaya menghidupkan kembali Sunnah-sunnah Rasulullah.

Kalau kita perhatikan, barangkali salah satu penyebab hal tersebut adalah semakin jauhnya kita dari ilmu agama. Kita selalu pongah sebagai Negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia, namun sayang dalam segi kualitas sungguh membuat kita mengelus dada. Maksiat, bid’ah, khurafat, syirik, nabi palsu, dukun berdasi, aliran sesat, koruptor, siswi SMP aborsi, aparat jahat hingga pejabat bejat, sudah menjadi berita setiap hari di surat kabar atau televisi. Inikah yang dikabarkan Rasulullah dalam haditsnya tentang adanya suatu zaman dimana jumlah kita banyak, namun bagai buih di lautan, dan jadi santapan musuh. Begitu mudah dibodohi dan dikalahkan. Belum lagi peran media masa, yang memberitakan tentang terorisme yang sangat sepihak dan tidak adil yang dengannya sungguh sangat ampuh menggiring opini masyarakat untuk makin paranoid terhadap siapapun yang dianggap teroris hingga yang hanya sekedar berpenampilan mirip tersangka teroris. Padahal dinegara-negara barat kafir pun sebenarnya banyak terjadi saling bom dan bunuh antar warganya yang notabene seagama, seperti di Inggris dengan pemberontakan Irlandia Utaranya, atau Rusia versus Georgia, dll. Bahkan menurut penelitian Pape, dari 186 kasus bom bunuh diri antara tahun 1980-2001 diseluruh dunia, 75 diantaranya dilakukan oleh aktivis LTTE (Macan Tamil Eelam) yang berideologi Marxis dan Leninis, dan lainnya dilakukan oleh organisasi pembebasan Irlandia Utara, Tentara Merah (Jepang), Brigade Merah (Italia), dll. Dari situ terlihat gambaran bagaimana hakikat media masa yang selama ini membombardir kita.

Namun begitu, umat muslim harus diingatkan, terutama mereka yang mempunyai pemahaman menyimpang tentang Jihad. Bahwa budaya suicide bombing (bom bunuh diri) bukanlah budaya Islam, bahkan hal itu termasuk tindakan kekafiran, Allah befirman, “Dan Janganlah kalian membunuh diri kalian” (An Nisa : 29), Rasulullah juga bersaba, “barang siapa yang meniru kelompok manusia tertentu, maka ia termasuk golongan mereka.” Ini juga termasuk tindakan memanipulasi syariat Islam, niat jihad fil sabilillah seolah jadi menghalalkan segala cara, termasuk cara kontroversial atau malah jelas-jelas diharamkan dalam Islam. Ada sebuah kaidah, “KEBENARAN TIDAK BISA DITEGAKAN DENGAN CARA BATIL”, itu artinya niat jihad fil sabilillah tidak menyebabkan segala cara menjadi halal, dan itu sama sekali tidak bisa menolong kebenaran. Belum lagi hukum membunuh sesama muslim, bagaimana mungkin melakukan pengeboman seperti di Negeri ini dengan penduduk mayoritas berpenduduk muslim tidak menimbulkan korban di pihak muslim. Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, Kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (An Nisa : 93).

Ini semua merupakan bentuk Fitnah (keburukan) bagi umat muslim saat ini, dimana akan semakin berat usaha-usaha untuk berdakwah dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah. Namun ada beberapa nasihat dari seorang Ustadz dalam menghadapi fitnah ini :

  • Menyibukan diri kita dengan ibadah dan menuntuk Ilmu Syar’i
  • Mengembalikan persoalan kepada Pemerintah dan Ulama, Allah berfirman, “Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan mereka langsung menyiarkannya, padahal apabila mereka menyerahkannya langsung kepada Rasul dan Ulil Amri, sekiranya bukan karunia dan Rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja diantara kamu.” (An Nisa : 83)
  • Memohon perlindungan kepada Allah, Allah berfirman, “ Ya Tuhan kami, janganlah engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zholim.” (Yunus : 85).

Setiap kejadian selalu ada hikmahnya, begitu juga dengan adanya fitnah ini, Allah berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah mengujij orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami ? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.”

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s