CSR (Corporate Social Responsibility) konsep yang menguntungkan semua pihak

Ketika banyak pihak masih memperdebatkan batasan atau definisi mengenai CSR (Corporate Social Responsibility) namun pada kenyataannya sudah banyak perusahaan yang telah melaksanakannya, walaupun banyak pula pada akhirnya program yang dijalankan melenceng dari tujuan awal konsep CSR itu sendiri. CSR berhubungan erat dengan pembangunan yang berkelanjutan, suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan seperti keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang, jangan sampai program CSR yang dilaksanakan hanya memberikan manfaat bagi suatu kelompok tertentu saja sehingga perusahaan hanya dijadikan sapi perahan saja. Konsep CSR harus dipisahkan dari sumbangan sosial atau perbuatan baik suatu perusahaan karena sesungguhnya sumbangan sosial merupakan bagian kecil saja dari program CSR.

Yang menjadi tantangannya adalah bagaimana membangun konsep CSR yang benar-benar efektif dalam menjalankan fungsi sosial, namun tidak melupakan tujuan perusahaan untuk mencari keuntungan. Selain itu, bagaimana membangun konsep CSR yang memiliki dampak positif terhadap peningkatan keuntungan perusahaan, namun bukan berarti semata mencari keuntungan yang “dibungkus” oleh tanggungjawab dan kepedulian sosial.

Penyaluran listrik yang merata ke daerah-daerah pelosok di tanah air yang dilakukan oleh salah satu badan usaha milik negara dapat dijadikan contoh aktifitas perusahaan yang didalamnya terdapat fungsi sosial karena dampak atau manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, namun ini hal ini wajar dilakukan oleh badan usaha milik pemerintah karena memang sudah kewajiban pemerintah untuk secara nyata mendorong tumbuhnya perekonomian daerah melalui penyediaan aliran listrik. Tetapi akan berbeda artinya bila hal serupa dilakukan oleh perusahaan swasta seperti yang telah dilakukan PT XL Axiata Tbk dengan membangun BTS (Base Transceiver Station) di daerah-daerah terpencil sekaligus menyediakan layanan telekomunikasi yang handal, baik untuk layanan voice, SMS maupun lalu lintas data. Saat ini + 17.232 BTS (2G dan 3G) milik PT XL Axiata yang menjangkau lebih dari 90 persen populasi Indonesia, telah mendorong masyarakat terhubung demikian dekat.

Hal ini sejalan dengan apa  yang disampaikan Presiden SBY pada saat peresmiaan BTS milik XL tersebut yang menyatakan bahwa “pembangunan infrastruktur telekomunikasi di daerah terpencil merupakan salah satu prioritas bagi pemerintah”, sehingga apa yang dilakukan XL dalam memperluas jaringan telekomunikasi dengan menggunakan dana sendiri, telah turut memberikan kontribusi yang besar dalam pelaksanaan pembangunan, sebagaimana diyakini oleh organisasi telekomunikasi dunia, International Telecommunication Union (ITU), yang menyatakan bahwa penambahan investasi di sektor telekomunikasi sebesar 1% akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 3%. Hal ini telah terbukti kebenarannya di negara-negara Jepang, Korea, Kanada, Australia, dan negara-negara Eropa, Skandinavia, telah memberi perhatian besar pada sektor telekomunikasi. Karena selain jumlah pengguna telepon (teledensity) meningkat, terjadi pula peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Permasalahan lain yang mungkin timbul dalam perluasan jaringan telekomunikasi yang mencapai daerah terpencil yang pada umumnya daerah-daerah tersebut masih tertinggal dan perekonomiannya kurang maka yang perlu diperhatikan adalah tarif telekomunikasi yang murah atau terjangkau oleh masyarakat di daerah-daerah terpencil tersebut, untuk itu apa yang telah dilakukan XL dengan menetapkan tarif yang murah namun dengan kualitas tidak murahan menjadi solusi dari permasalahan tersebut.

Apa yang telah dilakukan PT XL Axiata Tbk dengan membangun BTS guna memperluas jaringan telekomunikasi serta memberikan tarif yang murah agar terjangkau oleh masyarakat di daerah-daerah terpencil menurut saya adalah konsep CSR yang sebenarnya. Dari satu sisi, walaupun tarfi XL yang terliahat agresif dengan memberlakukan tarif murah serta melakukan pembangunan BTS dengan biaya dari mereka sendiri, XL tetap tidak merugi. Tengok saja, sampai akhir Desember 2009 saja misalnya, jumlah pelanggan XL di wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua mencapai 1,3 juta atau dua kali lipat dari angka sebelumnya pada bulan Agustus 2009 yang hanya 500 ribu pelanggan. Secara nasional, jumlah pelangan XL tumbuh 21 persen sepanjang 2009 menjadi 31,4 juta, dengan jumlah pelanggan RGB (Revenue Generating Base) naik 49 persen menjadi 31,1 juta pelanggan. Tahun itu juga, pendapatan dan EBITDA (pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) tumbuh masing-masing 14% dan sekitar 19-20%, dibandingkan periode yang sama tahun 2008.

Disisi lain pemerintah telah terbantu dalam pencapaian prioritas pembangunannya dalam upaya penyebaran jaringan telekomunikasi di daerah-daerah terpencil, terlebih lagi bagi masyarakat yang menjadi bagian dari pembangunan perluasan jaringan telekomunikasi akan banyak manfaat yang dapat dirasakan langsung seperti kemudahaan informasi, kemudahan komunikasi sehingga transaksi bisnis bisa dilakukan lebih cepat, sehingga memungkinkan terlaksananya aktivitas perekonomian dan sosial kemasyarakatan dengan lebih baik. Dan yang tak kalah pentingnya adalah penyelenggaraan jaringan dan jasa telekomunikasi, serta penyedia layanan Teknologi Informasi (TI), diperkirakan tidak kurang dari satu juta tenaga kerja terserap di sektor ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s