Kebablasan Pers

Sejak reformasi digulirkan pada tahun 1998, seluruh komponen bangsa mulai menuntut keterbukaan seluas-luasnya atas nama demokrasi, begitu pula dengan pers di Indonesia, apalagi setelah Undang-Undang No 40 Tahun 1999 tentang Pers disahkan. Sayangnya, profesionalisme wartawan saat ini kurang terjaga dengan baik, kode etik jurnalistik sudah banyak dilanggar. Padahal kalau kita ingat pada waktu mengikuti mata kuliah Etika Profesi, dijelaskan bahwa etika ini berkaitan erat dengan moral, sebab mempunyai fungsi yang sama, yaitu memberikan orientasi bagaimana dan kemana harus melangkah.

Tengok saja salah satu dari kode etik jurnaslistik yang dihasilkan pada Kongres XXII di Nangroe Aceh Darusalam pada tanggal 28-29 Juli 2008, yang bunyinya sebagai berikut :

Pasal 2

Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan agama, kepercayaan atau keyakinan suatu golongan yang dilindungi oleh undang-undang.

Pasal 6

Wartawan Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan pribadi dengan tidak menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang merugikan nama baik seseorang, kecuali menyangkut kepentingan umum

Mungkin sudah ratusan atau bahkan lebih artis yang menjadi korban atas pelanggaran kode etik pers ini, walaupun lebih banyak lagi artis yang diuntungkan karena peran pers dalam pemberitaannya. Namun rasanya sudah terlalu berlebihan kalau pelanggaran kode etik ini terkait kehormatan atau keyakinan agama seseorang, yang terakhir ini adalah kasus jabat tangan yang dilakukan oleh seorang menteri (laki-laki) yang berasal dari partai Islam terhadap Istri Presiden AS (dalam hukum Islam “yang sebenarnya” tidak diperkenankan laki-laki bersentuhan kulit dengan perempuan yang bukan muhrimnya-pen). Jujur saja tidak mudah untuk bisa menjalankan prinsip seperti Pak Menteri ini dan walaupun saya bukan simpatisan partainya menteri ini, tetapi ini menyangkut prinsip atau keyakinan dari seorang muslim yang berusaha menjaga nilai-nilai syar’i. Kalau media masa seperti Washington sih wajar saja membesar-besarkan kejadian ini (bahkan terkesan menyudutkan), namun semestinya media Indonesia yang mayoritas muslim dipertimbangkan dulu baik-baik sebelum mengeksploitasi kejadian ini ke media masa. Lagipula seberapa besar sih urgensinya kejadian ini untuk dimuat di media masa, banyak hal-hal yang lebih penting dan lebih pantas untuk dijadikan berita.

Ayat atau hadits tentang ancaman membuka aib orang lain sangat jelas, apalagi sesama saudara seiman, tapi ada kabar gembira bagi yang suka menutup aib orang lain seperti dalam hadits berikut : “Barangsiapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim). Setiap orang pasti punya aib sekecil apapun itu, nah kenapa kita tidak melakukan hal seperti hadits diatas agar kita mendapat apa yang Allah janjikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s