Fatwa-fatwa Bagi Pegawai

buku-fatwa-fatwa-bagi-pegawai-fatwa-permasalahan-pekerajaan

Pernah gak sih kita berifikir ketika pertama kali masuk kerja dan menandatangani sebuah Surat Perjanjian Kerja kita teringat bahwa kita akan melakukan akad dengan manusia (habluminannas) dan disaksikan oleh Allah Ta’ala (habluminallah), sebab hakikatnya perjanjian/kesepakatan yang kita buat atau kita tanda-tangani artinya kedua belah pihak telah menyetujui dan berjanji untuk mentaati isi dari perjanjian/kesepakatan yang tertuang dalam Surat Perjanjian Kerja tersebut dan keduanya telah berjanji dengan Tuhan.

Namun pada masa ini seringkali kita melihat para pegawai melalaikan hal ini dengan dalih pemberi kerja/pengusaha pun sering melalaikan hak-haknya (hak pegawai), padahal ketika kita dengan sengaja atau secara sadar melanggar isi perjanjian kerja kita berarti kita telah khianat dengan janji kita, dan itu artinya kita termasuk dari golongan orang munafik, tentu kita semua tahu apa balasan bagi orang munafik, na’udzubillah.

Dalam sebuah buku berjudul Fatawa lil Muwazhzhafin karya Dakhilullah bin Bukhait Al-Mathrafiy (Riyadh) di terjemaahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul Fatwa-fatwa Bagi Pegawai banyak memuat fatwa-fatwa ulama terkemuka dari Timur Tengah seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Bazz, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, dan lain-lain. Fatwa-fatwa tersebut diantaranya :

  1. Pegawai yang memiliki pertokoan : “Tidak boleh bekerja di toko, perusahaan, lembaga, atau menjual barang-barang tertentu, karena hal tersebut dapat menyibukan hatinya dari pekerjaannya sebagai pegawai. Sehingga hal itu akan mendorongnya banyak keluar di saat-saat bekerja, terlambat datang karena kesibukannya dengan barang dagangannya… Demikianlah keseibukannya terhadap perdagangannya membuatnya lalai dari pekerjaan utamanya, hal ini berarti telah memotong hak pemberi kerja. Namun bila yang mengurusi perdagangannya adalah orang lain atau pekerja yang mendapat gaji atau bagian tertentu dari hasilnya, sedangkan ia tidak ikut serta didalamnya dan tidak mengurusi pekerjaan tersebut (tidak melalaikan pekerjaan utamanya) mungkin hal itu tidak mengapa. Wallahu a’lam”. (Bin Jibrin).
  2. Alasan palsu dalam mendapatkan ijin cuti : “Setiap muslim berkewajiban untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan perbuatan dusta dan tipu muslihat hanya sekedar untuk meninggalkan tugasnya yang telah ditugaskan kepadanya dengan mengharap gaji… Karena hal ini termasuk amanah yang dibebankan kepada semua orang yang akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan Allah Ta’ala”. (Al-Fauzan). Pimpinan sebuah bagian atau yang mewakilinya tidak boleh menyetujui suatau alasan yang ia yakini tidak benar. Namun hendaknya ia teliti, apabila memang ada kebutuhan yang mendesak untuk memberikan izin dan tidak membuat madharat pada pekerjaan, maka tidak mengapa memberikan izin. Namun bila alasan tersebut diketahui dusta, atau besar praduganya bahwa alasan itu dusta, maka bagi pemimpin hendaklah tidak memberikan izin kepadanya sebab hal tersebtu termasuk menghianati amanah dan tidak tulus kepada yang memberikan amanah. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu menghianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui.” – QS Al-Anfal : 27. (Bin Bazz).

Dan masih banyak lagi fatwa-fatwa lainnya yang penting untuk diperhatikan bagi pegawai agar kegiatannya sebegai pegawai mendapat berkah dan menjadi amal ibadah untuk dirinya.

Lalu bagaimana menyikapi tindakan pemberi kerja/pengusaha yang telah melalaikan haknya (hak pegawai), haruskah kita membalasnya dengan melalaikan kewajiban kita? Lebih mulia jika kita mendo’akan kebaikan untuk pemimpin kita, karena jika mereka baik tentu kebaikannya akan berdampak kepada kita. Bersabarlah atas keadaan yang tidak menyenangkan kita, jika mampu memberi nasihat, maka nasihatilah. Namun jika mampu untuk merubah keadaan, misalkan dengan mendapat pekerjaan baru di tempat lain maka lakukanlah, itu lebih baik jika kita bekerja tetapi terus menerus mengeluh dengan keadaan disekeliling kita, seperti kata teman saya “Take it or leave it…”.

“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan perbuatan memaafkannya melainkan (menambahkan untuknya) kemuliaan.” [HR Muslim (2588)]

“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan”. (Al-Mukminun : 96)

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan  antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan  kecuali  kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fussilat: 34-35)

“Innallaha jamil yuhibbul jamal”. Sesungguhnya Allah itu Jamil, dan mencintai kejamilan, itulah pesan Rasulullah kepada umatnya agar kita selalu memberikan sesuatu yang paling cantik dalam hidup ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s