Bekerja = Berada di Kantor (masihkah berlaku?)

Sebut saja namanya Udin, karyawan yang terkenal sangat rajin ditempatnya bekerja, sebagian besar hak cutinya sering hangus pada akhir tahun, jarang sakit, tidak pernah terlambat, apalagi sampai mangkir. Catatan absensinya selalu yang terbaik diantara rekan-rekan kerjanya, dan hasil pekerjaannyapun selalu memuaskan atasannya, hamper 100% pekerjaannya zero complaint sehingga Udin pun sering dipercayai mengerjakan tugas-tugas yang cukup penting seperti perhitungan kenaikan gaji tahunan, bonus,THR, dan pekerjaan lainnya yang memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi. Kondite Udin yang dinilai rajin dalam bekerja ini ternyata membuahkan sedikit demi sedikit karirnya meningkat hingga akhirnya dari seorang typist menjadi senior clerk, maklum Udin hanya lulusan SMA sehingga perkembangan karirnya sedikit lambat, namun Udin tetap konsisten untuk rajin bekerja, menjaga track record absensinya.

Sampai akhirnya suatu waktu Udin mulai berubah dengan pandangannya tentang prestasi kehadiran, dimana Udin menemukan kenyataan bahwa rekan kerjanya yang sering terlambat dan tidak masuk kerja, hasil penilaian kinerjanya sama saja, belum lagi dia mengetahui bahwa sebagian besar level manajer catatan absensinya kosong alias tidak pernah melakukan pencatatan absensi (seperti pada saat masuk kerja dan pulang kerja), padahal setahu Udin tidak ada peraturan bahwa level manajer tidak perlu melakukan absensi. Timbul pertanyaan apakah Disiplin dalam hal absensi tidak lagi menjadi hal yang penting dalam bekerja?

Memang, bila pada waktu yang lalu “bekerja” dianalogikan dengan “berada di kantor”, saat sekarang hal itu sudah berangsur berubah. Salah satu alasannya adalah lalu lintas terutama di kota besar, yang sudah tidak masuk akal memang menghambat mobilitas dan rutinitas kita pergi ke tempat kerja. Disisi laian kemajuan teknologi informasi memungkinkan sebagian orang untuk bekerja di sembarang tempat, seperti apa yang diungkapkan oleh dua orang ahli manajemen Jeanne Meister dan Karie Willyerd, “Your mobile device will become your office, your classroom, and your concierge.”

Seorang karyawan di perusahaan yang sudah menerapkan gaya kerja fleksibel, pulang dari kantor pukul 15.00 sore, kemudian ia memasak dan mengurus rumah tangga, dan memulai kembali pekerjaannya pada pukul 9 malam setelah anak-anak tidur dan selesai mencuci piring, tantangan untuk menunjukan produktivitas masih bisa dicapai sambil tetap memperhatikan lingkungan social, keluarga dan kehidupan pribadi. Untuk itu bisa dimaklumi pula adanya kegiatan penertiban absensi menjadi perbincangan hangat di sebuah kantor, banyak karyawan protes karena menilai peraturan tersebut sudah basi, apalagi bila absensi dikaitkan dengan penilaian kinerja. Tengoklah ungkapan seorang karyawan sebagai berikut, “Saya baru tutup laptop pukul 9 malam dan sudah kembali buka laptop untuk bekerja pukul 4 pagi, sepanjang perjalanan ke kantor pun saya terus memikirkan proposal yang tengan saya garap untuk klien. Mengapa saya ditegur dan dinilai tidak berkinerja hanya karena 15 menit terlambat masuk kerja dari pukul 8 pagi?

 Sepertinya saat ini sudah dan akan semakin memasuki era ROWE (Results Oriented Work Environment), yang setiap karyawan perlu menawarkan “Rx” (result/hasil)-nya secara konkret dan terukur. Para pria juga merasa wajib memikirkan kegiatan domestic rumah tangga, dan merasa berhak mendapat izin tinggal di rumah bila anak sakit. Kalau kita sampai saat ini bisa mengaitkan sikap disiplin dengan hal-hal yang sangat rutin seperti absensi dan lembur, kedepannya disiplin justru perlu diarahkan pada hal seperti discovery, inovasi, memimpin, menjual dan belajar. Hal-hal yang rutin perlu kita otomasi sehingga tidak membutuhkan pengawasan dan membuang energi manusia. Contohnya, kita bisa mengganti sesi sosialisasi dengan membangun situs sebagai ajang komunikasi. Pemanfaatan teknologi informasi secara maksimal bisa membantu mewujudkan hal tadi.

Namun tentunya fleksibilitas kehadiran di tempat bekerja ini tidak bisa diterapkan sepenuhnya terhadap semua bagian, beberapa bagian memang memerlukan kedisiplinan dalam hal absensi untuk menjamin kegitan produksi bisa berjalan dengan lancar misalnya. Walaupun demikian Udin tetap harus siap siaga mengikuti setiap perubahan dalam dunia kerja yang selalu menuntutnya untuk memberikan lebih dari apa yang menjadi sekedar tugas utamanya.

Sumber : (sebagian) dari Kompas Klasika – Karier (Sabtu, 26 Maret 2011)

2 responses to “Bekerja = Berada di Kantor (masihkah berlaku?)

  1. Kayaknya udin di paragraf pertama adalah anakbuahku di Petrochem….sampaikan maafku kalau ketemu gus…dulu gak berbuat apa2 demi kemajuan si udin

    • Oh gitu ya pak? Nanti saya sampaikan pak, tapi saya kenal “Udin”, Insya Allah dia gak suka menyalahkan orang lain atas kekurangannya…hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s